karya ilmiah PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR (nur sholeh sabak)

 

JUDUL

PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR

 

 

                                          

 

                                    

 

 

 

 

 

 

                                                  

 

                                                 

 

 

 

 

Lomba Kegiatan Ilmiah Siswa SLTA

Tingkat Nasional

 

 

Diusulkan oleh:

 

Nursholeh   (Ketua Kelompok)

Yuni Widanarti, (Anggota Kelompok)

Wiwiek Astuti (Anggota Kelompok)

 

 

 

 

 

 

 

 

SMA NEGERI 10 Geragai

TANJUNG JABUNG TIMUR

2010

 

 

 

 

 

 

HALAMAN PENGESAHAN

                              

 

1.  Judul Kegiatan                                                               :  Pengendalian Daya Rusak Air

 

2.  Ketua Pelaksana Kegiatan/Penulis Utama

a.  Nama Lengkap                                                        : Nursholeh

b.  No. Induk Siswa                                                      : 0020

c.  SLTA/SMU                                                              : SMAN 10 Tanjung Jabung Timur

d.  Alamat  Rumah  dan No Tel./HP                             : Jl. Sabak Timur-Jambi Zone 4

 

3.  Anggota Pelaksana Kegiatan/Penulis                            :  3 orang

 

4.  Guru Pendamping 

a.   Nama Lengkap dan Gelar                                      : Nurhayati, S. Pd. I/ Try Agophi Endah PW. SP

b.   NIP                                                                         : 198510152009032007/

             197811062009032003

 

c.   Alamat Rumah dan No Tel./HP                              : Jl. Lintas Jambi- Muara Sabak,

                                                                                            Tanjung Jabung Timur/081367505217

 

 

 

 

              

 

Menyetujui                                                                                                               Muara Sabak, 29 Januari 2010

                                                                                                               

Guru Pendamping                                                                                                   Ketua Pelaksana Kegiatan

 

 

 

 

 

(Nurhayati, S. Pd. I)                                                                                                (Nursholeh)

Nip. 198510152009032007                                                                                     Nim 0020

 

 

 

Mengetahui

Kepala Sekolah SMA Negeri 10 Tanjab Timur

 

 

 

 

 

(Fitri Kurniasih, S. Pd)

                                                                            Nip. 132 212 830

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 KATA PENGANTAR

 

 

            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat limpahan rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Ilmiah ini.

                Karya Ilmiah ini bertemakan tentang upaya pengendalian daya rusak air, juga berisi hal-hal yang berkenaan dengan proses penanggulangannya, dari awal hingga akhir dan menjadii sebuah Karya Ilmiah. Pembuatan karya ilmiah ini dalam rangka menikuti lomba karya ilmiah tingkat SMA yang diadakan oleh Pusat Balitbang.

                Tak lupa penulis menghaturkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan karya ilmiah ini, yang terlebih khusus kepada bapak dan ibu guru yang telah membimbing.

                Penulisan karya ilmiah ini tak luput dari kesalahan oleh karena itu saran, kritik yang sifatnya membangun demi perbaikan karya ilmiah ini sangatlah diperlukan. Demikaianlah karya ilmiah ini, dan penulis ucapkan terima kasih.

 

 

                                                                                                Sabak, 29  Januari 20101

 

 

                                                                                                                                                   Ttd

                                                                                                                                                Penulis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

JUDUL………………………………………………………………………………………………………………………..i

HALAMAN PENGESAHAN…………………………………………………………………………….ii.

KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………………………………………iii

DAFTARA TABEL………………………………………………………………………………………………………..

DAFTAR GAMBAR…………………………………………………………………………………………………..

DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………………………………………

 

BAB. I      PENDAHULUAN

1.1                 Latar Belakang…………………………………………………………………………………………………

1.2                 Identifikasi  masalah………………………………………………………………………………………..

1.3                 Tujuan dan Manfaat……………………………………………………………………………………………

1.4                 Manfaat ……………………………………………………………………………………………….

 

BAB II METODELOGI PENELITIAN

2.1 Penelitian Yang Relevan ……………………………………………………………………………..

2.2 Kajian Teori ……………………………………………………………………………………………….

 

BAB III HASIL

3.1

3.2

3.3

BAB IV PEMBAHASAN

 

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan ……………………………………………………………………………………………….

5.2 Saran ……………………………………………………………………………………………………….

Daftar Pustaka ………………………………………………………………………………………………..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR

Nursholeh, Yuni Widarnati, Wiwiek Widiastuti

SMA NEGERI 10 GERAGAI TANJUNG JABUNG TIMUR

 

 

ABSTRAK

Nursholeh, dkk. 2010. Pengendalian Daya Rusak.Air. Lomba kegiatan Ilmiah Tingkat SLTA seluruh Indonesia, Departemen Pekerjaan Umum, Badan Penelitian dan Pengembangan, Pusat Pengembangan dan Sumber Daya Air, Pembimbing: (I). Nurhayati, S. Pd. I (II) Tri Agophi Endah PW. SP

key words: Pengendalian Daya Rusak air, Air, gambut

Gambut merupakan  tanah  yang  terbentuk  dari  bahan  organik  pada  fisiografi  cekungan atau  rawa,  akumulasi  bahan  organik  pada  kondisi  jenuh  air,  anaerob,  menyebabkan proses  perombakan  bahan  organik  berjalan  sangat  lambat,  sehingga  terjadi  akumulasi  bahan  organik  yang  membentuk  tanah  gambut. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana  pengendalian daya rusak air (air gambut) agar dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh bagaimana cara: (1) Pengendalian daya rusak air (air gambut) yang diolah secara sederhana (2) ingin memanfaatkan air gambut sebagai sumber kebutuhan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan lokasi penelitian di Desa Kota Baru dan Desa Suka Maju, dan Rantau Karya, kecamatan Geragai, Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Pengumpulan data diambil melalui pengamatan (observasi), wawancara dan quesoner.

Dari hasil penelitian didapat bahwa tingkat keasaman air gambut sangatlah tinggi (PH tinggi) maka dengan menggunakan cara Pengolahan air gambut menjadi air sehat bisa digunakan di daerah rawa seperti di  daerah Kabupaten Tanjung Jabung Timur yang mengandung gambut. Untuk itu diperlukan suatu cara pengolahan air gambut yang sederhana dan terjangkau oleh masyarakat di daerah tersebut. Caranya dengan menggunakan pasir sebagai saringan. Cara-cara yang disajikan dapat digunakan di desa karena bahan dan alatnya mudah di dapat. Bahan-bahannya antara lain batu, pasir, kerikil, arang tempurung kelapa, rang sekam padi, tanah liat, ijuk, kaporit, kapur, tawas, biji kelor dan lain-lain. Berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitian, diharapkan dengan cara pengendalian daya rusak air (air gambut) yang sangat sederhana dapat digunakan oleh masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1      Latar Belakang

Wilayah kabupaten Tanjung Jabung Timur  Provinsi Jambi merupakan  suatu kawasan yang sangat strategis baik ditinjau dari segi tekhnis, keamanan, sosial budaya maupun ekonomi. Hal tersebut sangat dipahami karena dari 205.000 jiwa penduduk kabupaten Tanjung Jabung Timur , sekitar 80% berdiam di daerah pesisir dan menyerap 60% tenaga kerja dibidang perikanan, pertanian, perkebungan, kehutanan, jasa transportasi, perdagangan, industri rumah tangga dan lain sebagainya.

Untuk meningkatkan pembangunan dibidang prasarana dasar, maka perlu dilakukan penyusunan kebijakan strategis bidang air minum sebagai salah satu strategi pemanfaatan sumber daya alam untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, perekonomian, industri maupun jasa-jasa lainnya. Sejalan dengan perkembangan pembangunan yang mengarah keperkotaan.

Wilayah Tanjung Jabung Timur memiliki potensi air permukaan cukup melimpah, namun secara umum bersifat masam karena pengaruh air gambut dan sebagaian asin akibat pengaruh pasang air laut. Kondisi air permukaan dan air tanah dipengaruhi oleh musim dan pasang surut air laut. Pada saat musim hujan fluktuasi air tanah dan permukaan akan tinggi dan beberapa tempat akan terjadi genangan/ banjir akibat luapan air sungai Batanghari, terutama kawasan sepanjang sungai tersebut. Pada musim kemarau elevasi air sungai dan air tanah menurun dan terjadi intrusi air laut kedarat hingga 27,5km dari muara.

Berdasarkan atas tingkat kedalaman tanah gambut diwilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur terdiri dari :

  1. Tanah gambut seluas 334.440 Ha atau 67,32% dan
  2. Tanah tanpa gambut seluas 155.055 Ha atau 31,22%.

Menurut tingkat kedalaman tanah gambut di wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur terdri dari :

  1. Tanah Gambut < 1 m seluas 147.907 Ha atau seluas 29,77%
  2. Tanah Gambut 1-2 m seluas 93.461 Ha atau seluas 18,82%
  3. Tanah Gambut 2-3 m seluas 42.330 Ha atau seluas 8,52%
  4. Tanah Gambut > 3 m seluas 50.743 Ha atau seluas 10,20%

Berdasarkan atas tekstur tanah di wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur terdiri dari :

  1. Tanah bertekstur halus seluas 155.055 Ha atau seluas 31,21%
  2. Tanah Tanpa tekstur seluas 334.440 Ha atau seluas 67,32%

Masyarakat Desa Kota Baru mengenal tanah gambut sebagai tanah hitam. Tanah gambut adalah tanah yang terbentuk dari akumulasi bahan organik pada kondisi anaerob. Di dalam Taksonomi Tanah, tanah gambut atau Histosol didifinisikan sebagai tanah yang mengandung bahan organik lebih dari 20 persen (bila tanah tidak mengandung liat), bila tanah mengandung liat 60 persen atau lebih maka kandungan bahan organik tanah lebih dari 30 persen dan memiliki ketebalan lebih dari 40 cm. Menurut Soekardi dan Hidayat (1988) Penyebaran gambut di Indonesia meliputi areal seluas 18.480 ribu hektar, tersebar pada pulau-pulau besar Kalimantan, Sumatera, Papua serta beberapa pulau Kecil (Tabel 1). Dengan penyebaran seluas sekitar 18 juta ha maka luas lahan gambut Indonesia menempati urutan ke-4 dari luas gambut dunia setelah Kanada; Uni Sovyet dan Amerika Serikat.

Gambut merupakan tanah yang terbentuk dari bahan organik pada fisiografi cekungan atau rawa, akumulasi bahan organik pada kondisi jenuh air, anaerob, menyebabkan proses perombakan bahan organik berjalan sangat lambat, sehingga terjadi akumulasi bahan organik yang membentuk tanah gambut. Berdasarkan penelitian yang dilakukan  Di daerah  “Kalimantan Bahwa Proses pembentukan gambut terjadi baik pada daerah pantai maupun di daerah pedalaman dengan fisiografi yang memungkinkan terbentuknya gambut, oleh sebab itu kesuburan gambut sangat bervariasi, gambut pantai yang tipis umumnya cukup subur, sedang gambut pedalaman seperti di Bereng Bengkel Kalimantan Tengah kurang subur” (Dikutip: Penelitian yang dilakukan Saeri Sagiman, Universitas Tanjungpura, Tim Fakultas Pertanian IPB, 1986; Harjowigeno, 1996; dan Noor, 2001)

Pemanfaatan gambut yang cukup intensif dilakukan penduduk di kab Tanjung Jabung Timur, yaitu daerah kec Kota Baru, desa Rantau Karya, desa Suka Maju. Pada daerah kota baru yang merupakan kawasan kota mandiri, lahan gambut dimanfaatkan untuk pertanian hortikultura, sayur-sayuran, dan tanaman  sawit, tanaman pinang, tanaman karet.

Secara teoritis permasalahan pertanian lahan gambut sesungguhnya disebabkan oleh drainase yang jelek, kemasaman gambut tinggi, tingkat kesuburan dan kerapatan lindak gambut yang rendah. Kemasaman gambut yang tinggi dan ketersediaan hara serta kejenuhan basa (KB) yang rendah menyebabkan produksi pertanian di lahan gambut sangat rendah. Pemanfatan kapur pertanian, dolomit, untuk memperbaiki kemasaman tanah dan KB memerlukan input dolomit yang tinggi dan mahal. Abu bakar dapat memperbaiki kesuburan tanah namun pembakaran harus dilakukan secara terkendali. Beberapa tehnologi pertanian baik yang bersumber dari kearifan lokal oleh petani maupun hasil-hasil penelitian oleh perguruan tinggi dan lembaga penelitian perlu dikaji kembali untuk mewujudkan pertanian lahan gambut yang berkelanjutan. Pertanian gambut diharapkan dapat memberikan hasil yang memberi penghidupan bagi petani namun tidak menimbulkan kerusakan pada lingkungan dan kerugian bagi masyarakat luas.

Kemudian yang sangat memprihatinkan sekali bahwa untuk Kebutuhan akan air bersih di daerah pedesaan kota baru dan pinggiran kota untuk air minum, memasak , mencuci sangat minim sekali. Dimana untuk kebutuhan minum saja, masyarakat menggunakan air gallon isi ulang, sedang air yang tersedia tidak bisa dimanfaatkan oleh masyarakat setempat. Kemudian untuk mandi, mencuci pakai juga tidak dapat digunakan dengan baik, jikalau digunakan untuk mandi,air yang mengalir ketubuh manusia maka akan terasa lengket dan berbau asam, digunakan untuk mencuci maka pakaian yang semula berwarna putih akan berubah warna menjadi kuning demikianpun halnya dengan yang lainnya, seperti halnya tanaman sawit jika menggandung banyak air gambut maka tanaman sawit tersebut akan tumbuh dengan kerdil dan tidak subur.  Dengan berbagai macam permasalahan dan teori yang ada, maka penulis ingin mencoba meneliti tentang Pengendalian Daya Rusak Air.

 

1.2     Rumusan Masalah

Bagaimana cara Pengendalian Daya Rusak Air (air gambut)  mengubah air gambut menjadi jernih dan bisa digunakan untuk konsumsii masyarakat

1.3     Tujuan

1.  Pengelolaan sumber daya air yang dikelola secara sederhana

2.  Ingin memanfaatkan air gambut sebagai sumber kebutuhan sehari-hari.

1.4     Kegunaan

Dengan adanya penelitian ini maka air gambut dapat dikonsumsi oleh masyarakat baik dalam bidang pertanian, perikanan, perkebunan, dan kebutuhan sehari-hari masyarakat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

METODE PENELITIAN

2.1 Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Desa Kota Baru dan Desa Suka Maju, dan Rantau Karya, kecamatan Geragai, Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Adapun penelitian yang dilakukan terhadap air gambut yang berada di desa Suka Maju dan Rantau Karya. Penelitian dilakukan pada tanggal 01 desember 2009.

 

2.2 Tekhnik Pengumpulan Data

Adapun tekhnik pengumpulan data yang penulis pakai dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan sumber data dari :

  1. Study kepustakaan, melalui berbagai bahan bacaan yang berhubungan dengan penelitian  dan permasalahan.
  2. Sumber lapangan dengan menggunakan metode pengumpulan data :

1)     Obeservasi

Observasi dalah melakukan pengamatan secara langsung keobjek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukannya. Pengamatan atau obeservasi adalah cara pengumpulan data dengan terjun langsung kelapangan terhadap objek yang diteliti ( Riduwan, 57, 2005). Observasi yang penulis maksud disini dimana peneliti lansung terjun kelapangan melakukan penelitian.

2)     Dokumentasi

Dokumentasi adalah ditujukan untuk memperoleh data dari tempat penelitian, meliputi buku-buku yang relevan, peraturan-peraturan, laporan kegiatan, foto-foto, film dokumentasi, data yang relevan penelitian ( Riduwan, 2005, 57).

Metode dokumentasi ini digunakan untuk mengmpulkan data tentang :

  1. Sejarah geografis lokasi penelitian
  2. Keadaan air gambut di desa Kota Baru dan Rantau Karya

3)     Wawancara

Metode wawancara adalah cara pengumpulan data dengan menggunakan tanya jawab langsung kepada objek yang diteliti yaitu kepada perantara yang mengetahui persolan dari objek yang diteliti ( Riduwan, 57, 2005).

Metode wawancara ini dapat digunakan untuk mendapatkan data dengan cara bertatap muka dengan masyarakat setempat yang menggunakan air gambut dalam kehidupan sehari-hari.

2.3  Kajian Teori

Air merupakan sumber daya alam yang berada dimana-mana, air juga disebut dengan benda cair karena bentuknya cair dan dapat menempati segala ruangan. Ada beberapa macam air yaitu :

  1. Pengertian Air

            Air merupakan sumber daya alam yang berada dimana-mana, air juga disebut dengan benda cair karena bentuknya cair dan dapat menempati segala ruangan. Ada beberapa macam air yaitu : Air permukaan merupakan air yang terdapat diatas permukaan tanah. Air tanah merupakan air yang terdapat didalam lapisan tanah atau batuan dibawah permukaan tanah.

  1. Pengertian air Gambut

    Air gambut adalah jenis air yang mempunyai kandungan zat besi yang tinggi. Umumya tanah gambut terdapat di daerah rawa dengan keadaan muka air cukup tinggi. Dalam keadaan jenuh kandungan air tanah gambut dapat mencapai 4,50 – 30 kali bobot keringnya. Adapun ciri-ciri kerusakannya akan berbeda-beda tergantung pada ketebalan tanah gambut tersebut. Lahan Rawa Gambut adalah lahan yang menempati kuarsa, dan liat bukan marin (endapan sungai). Sifat dari endapan GAmbut ini adalah selalu jenuh air hingga 90% walaupun letaknya diatas permukaan laut. Pembentukan gambut pada daerah tropis deposit gambut berasal dari hutan bakau, hutan rawa air tawar dan hutan kerangas. Segala bentuk air yangn menempati permukaan bumi, baik yang menempati atau mengalir melalui lembah yang disebut sungai, menempati suatu ledok yang disebut danau, maupun air yangmenenmpati lapisan tanah yang disebut air tanah. Air Tanah Merupakan air yg meresap kedalam pori-pori tanah,karena adanya hujan dan air mengalir di permukaan tanah meresap ke dalam lapisan tanah dan lapisan batuan.Air tersebut ada yg dapat bergerak dalam tanah seperti lapisan pasir atau kerikil sedangkan ada lapisan tanah yg tidak dapat kedap air seperti tanah lempung dan batuan keras(Rock).Lapisan batuan tak tembus air disebut impermeable dan lapisan batuan yg tembus air disebut dengan permeable.

        Perkembangan penduduk yg pesat menyebabkan kebutuhan air bertambah,sedangkan penduduk memerlukan lahan untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya seperti rumah, pertanian dan kebutuhan lainnya.Ini berakibat terhadap perubahan proses masuknya air ke dalam tanah atau peresapan air.  Klasifikasi air tanah prosesnya air kepermukaan tanah disebut infiltrasi,jika tanah dibawah belum jenuh,maka air hasil infiltrasi diteruskan dgn proses perkolasi.

  1.  Air tanah permukaan atau freatik (uniconfined aquifer).

             Air yang terletak di atas lapisan batuan kedap air sampai permukaan tanah.Air ini bersal dari air hujan atau air yang mengalir masuk ke dalam tanah (infiltrasi). Berkurangnya volume air tanah akan selalu berkaitan dengan prilaku manusia dalam pemanfaatan lahan.

  1. Air tanah dalam (Confined Aquifer)

             Air tanah dalam yaitu air yang terletak dibawah lapisan batuan kedap air maupun yang terletak diantara dua lapisan batu kedap air. Air yang masuk kedalam tanah melalui celah-celah batuan yang retak bergerak sebagai interflow dan mengisi lapisan tanah yang terletak diantara dua lapisan kedap air.

PENYEBARAN DAN PEMBENTUKAN GAMBUT

Tanah Gambut terbentuk dari timbunan bahan organik yang berasal dari tumbuhan purba yang berlapis-lapis hingga mencapai ketebalan >40 cm. Proses penimbunan bahan sisa tumbuhan ini merupakan proses geogenik yang berlangsung dalam waktu yang sangat lama (Hardjowigeno, 1996). Pembentukan gambut diduga terjadi pada periode Holosin antara 10.000 – 5.000 tahun silam. Menurut Andrisse (1988) gambut di daerah tropis terbentuk kurang dari 10.000 tahun lalu. Gambut pantai di Asia Tenggara umumnya berumur kurang dari 6.000 tahun, pengukuran umur gambut dari Serawak dengan metode radio-meteri 14C menunjukkan bahwa gambut serawak terbentuk maksimum sekitar 4.300, 7 tahun lalu. Gambut di Florida, Amerika Serikat, ternyata juga terbentuk 4.400 tahun lalu (Lucas, 1982 dalam Andrisse, 1988). Waktu pembentukan yang hampir bersamaan ini terjadi karena peristiwa mencairnya es didaerah kutub pada awal Holosin meyebabkan naiknya permukaan air laut dan menenggelamkan dataran pantai yang rendah diseluruh dunia. Kenaikan permukaan air laut menyebabkan pula dataran pantai di Indonesia seperti Sumatera, Kalimantan, Irian Jaya dan pulau-pulau lainya terendam menjadi rawarawa. Harjowigeno (1996) menyatakan bahwa kondisi anaerob yang tercipta karena penggenangan dataran pantai merupakan kondisi penting dalam pembentukan gambut pantai. Gambut pantai mulai terbentuk dari akumulasi bahan organik didaerah belakang tanggul sungai (levee) yaitu daerah back swamp. Pada saat gambut masih tipis akar tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di gambut dapat mengambil unsur hara dari tanah mineral dibawah gambut selanjutnya gambut terbentuk diperkaya dengan unsur hara dari luapan air sungai. Tumbuhan yang tumbuh cukup subur dan kaya mineral sehingga gambut yang terbentuk juga subur (gambut topogen). Dalam perkembangan selanjutya gambut semakin tebal dan akar tumbuhan yang hidup digambut tidak mampu mencapai tanah mineral di bawahnya, air sungai tidak mampu lagi menggenangi permukaan gambut. Sumber hara utama pada gambut ini hanyalah dari air hujan sehingga vegetasi yang tumbuh menjadi kurang subur dan menyebabkan gambut yang terbentuk menjadi gambut miskin hara. Gambut ini disebut sebagai gambut ombrogen.

 

 

 

  

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

 HASIL

3.1    Desa Kota Baru

Di Desa Kota Baru warganya cukup banyak menggunakan air sumur dari pada air hujan untuk keperluan sehari-hari. Jika dipresentasekan terdapat sekitar 70% warga yang mengkonsumsi air sumur, sedang sisany 30% menggunakan air hujan untuk keperluan konsumsi air minum dan memasak. Karena presentase dari 30% tersebut air mereka tak layak untuk komsumsi air minum dan memasak. Oleh karena itu, warga yang tinggal dikawasan air yang tak layak komsumsi menggukan air hujan untuk air minum dan memasak.

 

3.2     Desa Rantau Karya

Di Desa Rantau Karya hampir seluruhnya menggunakan air hujan untuk keperluan air minum dan memasak, karena memang keadaan tanah mereka yang berlahan gambut sehingga air yang dihasilkan sangat tidak layak untuk dikonsumsi. Jika dipresentasekan hanya 1% air yang layak untuk dikonsumsi.

 

3.3     Desa Suka Maju

Di Desa Suka Maju mayoritas airnya tidak layak minum sehingga tidak sedikit warga yang mengkonsumsi air hujan, dan untuk MCK warga tetap menggunakan air gambut. Jika dipresentasekan sekitar 60% warga yang menggunakan air gambut untuk MCK. Sedangkan 40% dari mereka tetap menggunakan air sumur untuk keperluan hidup merek

 

  Gambar dibawah adalah Contoh keadaan air di Desa Suka Maju :

  1. Gambar 1.

Air tersebut berwarna hitam dan lengket yang terdapat di sepanjang sungai di Desa Suka Maju. Faktor penyebabnya ialah: karena banyak tanaman yang membusuk dan lumpurnya yang berwarna hitam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2. Gambar 2.

Air dibawah ini juga terdapat di Desa Suka Maju, tetapi warna airnya tidak hitam melainkan coklat, akan tetapi kandungan tingkat keasamannya lebih tinggi dari pada air yang berwarna hitam seperti gambar 1.

                       

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

           

  1. 3.    Gambar 3.

Gambar dibawah ini adalah jenis air Gambut  di Desa Kota Baru juga, berwarna jernih. Akan tetapi memiliki tingkat keasaman lebih tinggi dari pada air pada gambar 1 dan gambar 2. Karena mengandung zat besi yang sangat tinggi sehingga tidak layak dikonsumsi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Gambar 4

Air yang berada Didesa Kota Baru (Gambar 1 dan 2), Air yang berada di desa Rantau Karya (3), Air yang Berada di desa Suka Maju

 

 

 

 

 

 

 

                        (Gambar 1.)                                                       (Gambar 2)

 

 

 

 

 

 

 

                        (Gambar 3)                                                        (Gambar 4)                               

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

Pembahasan

II. URAIAN SINGKAT

Cara-cara yang disajikan dapat digunakan di desa karena bahan dan alatnya mudah dapat. bahan-bahannya anatara lain batu, pasir, kerikil, arang tempurung kelapa, rang sekam padi, tanah liat, ijuk, kaporit, kapur, tawas, biji kelor dan lain-lain.

Pengolahan air gambut menjadi air sehat bisa digunakan di daerah rawa seperti di alimantan dan umatera yang mengandung gambut. Untuk itu diperlukan suatu cara engolahan air gambut yang sederhana dan terjangkau oleh masyarakat di daerah tersebut. Caranya dengan menggunakan pasir sebagai saringan.

 

III. BAHAN

  1. Air gambut (yang berwarna coklat, kandungan zat organik tinggi; pa rendah; kesadahan rendah)
  2. Zat pengumpul (tanah liat yang berwarna hitam dan berbau busuk)
  3. Pasir (diambil 03-1,2 mm)

 

IV. PEMBUATAN

Proses pengolahannya terdiri dari dua tahap, yaitu:

  1. Dalam drum, air gambut dicampur dengan lempung. Setelah diaduk terjadi proses penggumpulan, penyampuran, penyerapan dan pengendapan.
  2. Proses penyaringan (filtrasi)

Dalam tabung penyaring, air yang mengalir dari drum mengalami proses filtrasi (fisik dan kimia) sehingga menghasilkan air bersih yang memenuhi persyaratan Departemen Kesehatan RI.

 

V. PENGGUNAAN

Petunjuk Operasi

  1. Air gambut dimasukkan ke dalam drum/tong kira-kira sebanyak 200 liter semua kran dalam keadaan tertutup.
  2. Siapkan tanah lempung kira-kira sebanyak 40 sendok makan (1/2 kg), kemudian larutkan dalam ember kecil dengan air kira-kira 2 lt.
  3. Masukkan larutan dalam ember tadi ke dalam drum melalui ayakan, kemudian aduk dengan jalan memutar batang pengaduk selama 5-10 menit.
  4. Biarkan air dalam drum selama 45-60 menit agar kotoran mengendap.
  5. Kran 1 dan 3 dibuka untuk mendapatkan air bersih.

 

Catatan : Media penyaring harus dalam keadaan terendam air, baik ketika operasi maupun tidak beroperasi.

 

 

 

VI. PEMELIHARAAN

1. Pembersihan Drum

Setiap kali setelah dipakai, drum harus dibersihkan dengan cara :

  1.                 a.         Kran 1 dan 2 ditutup
  2.                 b.         Kran 4 (penguras) dibuka, kemudian dibilas dengan air sampai bersih.

 

2. Pembersihan Saringan (Filter)

Pembersihan saringan dilakukan paling lama seminggu sekali, atau kalau air yang keluar dari kran 3 sudah mulai keruh/berwarna dengan cara sebagai berikut :

  1. Tutup kran 1,3 dan 4 kemudian buka kran 2 (penguras)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

1. Kesimpulan

 

2. Saran                                             

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

–          Tanjung Jabung Timur dalam angka

–          Biografi Kabupaten Tanjung Jabung Timur

–          Sugandi, dede. 2002. Geografi SLTA kelas X. Bogor: Regina.

                                                                                                       

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

About nandaunja

saya kuliah di Unja Fakultas Peternakan angkatan 2011.

Posted on Februari 14, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: