Sistem pencernaan makanan pada amfibi

 

Sistem pencernaan makanan pada amfibi hampir sama dengan ikan, meliputi saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Salah satu binatang amphibi adalah katak. Makanan katak berupa hewan-hewan kecil (serangga). Secara berturut-turut saluran pencernaan pada katak meliputi:

 

  1. Rongga mulut. Gigi tumbuh pada rahang atas dan langit-langit. Gigi yang tumbuh di langit-langit disebut gigi vomer. Setiap kali tanggal, akan tumbuh gigi baru sebagai ganti. Lidah pada katak bercabang dua dan berfungsi sebagai alat penangkap mangsa. Jika ada serangga, katak menjulurkan lidahnya dan serangga itu akan melekat pada lidah yang berlendir.
  2. Esophagus. Berupa saluran pendek (kerongkongan).
  3. Ventrikulus (lambung). Berbentuk kantung yang bila terisi makanan menjadi lebar. Lambung katak dapat dibedakan menjadi 2, yaitu tempat masuknya esofagus dan lubang keluar menuju usus. Di dalam lambung makanan dicerna kemudian masuk ke usus halus. 
  4. Intestinum (usus). Dinding usus mengandung kapiler darah dan di sisi sari-sari makanan diserap.  Dapat dibedakan atas usus halus dan usus tebal (besar). Usus halus meliputi: duodenum, jejenum, dan ileum, tetapi belum jelas batas-batasnya. Dinding usus halus mengandung kapiler darah yang berfungsi untuk menyerap sari-sari makanan. 
  5. Usus tebal (besar). Berakhir pada rektum dan menuju kloaka, dan
  6.  
       

    Kloaka. Merupakan muara bersama antara saluran pencernaan makanan, saluran reproduksi, dan urine.

 

 Kelenjar pencernaan pada amfibi terdiri atas kelenjar ludah hati dan pankreas. Hati berwarna merah kecoklatan, terdiri atas lobus kanan yang terbagi lagi menjadi dua lobulus. Hati berfungsi mengeluarkan empedu yang disimpan dalam kantung empedu yang berwarna kehijauan. Pankreas berwarna kekuningan, melekat diantara lambung dan usus dua belas jari (duodenum). Pankreas berfungsi menghasilkan enzim dan hormon yang bermuara pada duodenum.

 

 

 

Amfibi memiliki beragam ciri morfologis yang berbeda antar ordo. Secara umum, semua amfibi memiliki kulit yang tipis dan halus. Berberapa jenis menggunakan kulitnya untuk respirasi dan pertukaran gas dengan udara. Sebagian besar jenis amfibi memiliki mata yang besar untuk mencari mangsanya.

Taksonomi amfibi adalah sebagai berikut:

Kingdom      :  Animalia

Phylum         :  Chordata

Sub-phyllum :  Vertebrata

Kelas            :  Amfibia

Ordo             :  Gymnophiona (Sesilia), Apoda (Salamander), Anura (Katak dan kodok)

Amfibi adalah satwa vertebrata dengan jumlah jenis terkecil, yaitu sekitar 4,000 jenis. Walaupun sedikit, amfibi merupakan vertebrata pertama yang berevolusi untuk kehidupan di darat dan merupakan nenek moyang reptil. Dari ketiga Ordo tersebut, salamander adalah satu-satunya kelompok yang tidak terdapat di Indonesia. Salamander dijumpai di Amerika utara dan tengah sampai Amerika Selatan bagian utara, Eropa, Afrika, Jepang dan Taiwan.

Ordo Gymnophiona juga dikenal dengan nama lain sesilia. Ordo ini terdiri dari 34 genera dan 5 famili. Jumlah jenis dari Ordo tersebut adalah sebanyak 163 jenis, atau sekitar 3.5% dari seluruh jenis amfibi. Satwa dari Ordo Gymnophiona memiliki tubuh panjang tanpa kaki, seperti cacing. Ciri-ciri seperti bentuk tulang, gigi dan lemak dalam tubuh menyerupai amfibi, sehingga sesilia termasuk dalam kelas tersebut. Sebagian besar sesilia berwarna abu-abu kebiruan. Ukurannya berkisar dari 7 cm sampai 1.5 m. Satwa sesilia jarang ditemui. Ordo Gymnophiona tersebar di Asia Tenggara, Amerika Tengah dan Selatan, serta Afrika Tengah. Di Asia Selatan sesilia terdapat dari bagian selatan Cina, India, Sri Lanka sampai Filipina selatan. Di Indonesia sesilia terdapat di pulau Sumatra, Jawa dan Kalimantan.

Katak dan kodok adalah anggota dari Ordo Anura. Untuk penjelasan seterusnya, kelompok ini akan disebut katak. Ordo tersebut terdiri dari 20 famili dengan 303 genera. Saat ini terdapat lebih dari 4,100 jenis Anura di dunia, atau sekitar 87% dari semua jenis amfibi. Indonesia memiliki sekitar 376 jenis amfibi (IUCN 2007). Jumlah jenis amfibi terus bertambah dengan adanya penemuan jenis-jenis baru.

Katak dan kodok merupakan amfibi yang paling mudah dikenal. Kata “anura” berarti “tanpa ekor”. Anura dewasa tidak memiliki ekor. Tubuh katak tampak seperti berjongkok dengan empat kaki. Kaki depan berukuran lebih kecil daripada kaki depan. Kaki belakang berfungsi untuk melompat. Kepala katak tidak dipisahkan dari badan oleh leher yang jelas. Katak memiliki mata yang besar dengan pupil horizontal atau vertikal.

Katak dan kodok berbeda dari ciri katak yang memiliki kulit tipis dan halus, tubuh ramping, dan kaki yang lebih kurus dan panjang. Kodok memiliki tubuh yang lebih pendek dan gemuk dengan kulit kasar dan tertutup bintil-bintil. Warna katak bervariasi, dari hijau, coklat, hitam, merah, oranye, kuning dan putih. Ukuran SVL (snout vent length) Anura berkisar dari 1-35 cm, tetapi kebanyakan berkisar antara 2-12 cm.

Morfologi katak berbeda tergantung pada habitatnya. Katak pohon seperti famili Rhacophoridae memiliki piringan (discs) pada ujung jarinya untuk membantu dalam memanjat. Katak akuatik atau semi-akuatik seperti famili Ranidae memiliki selaput diantara jari-jarinya untuk membantu dalam berenang. Katak terestrial tidak memiliki selaput ataupun piringan, tetapi cenderung memiliiki warna yang menyerupai serasah atau lingkungan sekelilingnya, seperti pada genus Megophrys.

Katak dan kodok tersebar pada seluruh benua kecuali pada kedua kutub dan daerah gurun yang sangat kering, dengan lebih dari 80% dari seluruh jenis terdapat di daerah tropik dan sub-tropik. Kelompok ini terdapat di seluruh Indonesia, dari Sumatra sampai Irian.

 

 
   

MORFOLOGI AMFIBI

 

a. Lipatan dorso-lateral
b. Timpanum
c. Moncong
d. Nuptial pads (untuk perkawinan)
e. Selaput renang
f. Kutil subartikular
g. Ujung jari halus (smooth tips)
h. Ujung jari membentuk kerucut (conical tips)
i. Ujung jari rata dengan lekuk tipis melingkar (circum-marginal groove)
j. Ujung jari membentuk spatula (spatulated tips)
k. Ujung jari bercakar (clawed tips)
l. Kelenjar parotoid (parotoid gland)
m. Pematang supraorbital
n. Arciferal scapular girdle
o. Firmisternal scapular girdle
p. Pematang parietal

SEJARAH KIMIA

 

Kimia (dari bahasa Farsi dan http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Indo-Eropa”>bahasa Indo-Eropa کیمیا / kimia “seni transformasi” “alkimia“) adalah ilmu yang mempelajari mengenai komposisi, struktur, dan sifat zat atau materi dari skala atom hingga molekul serta perubahan atau transformasi serta interaksi mereka untuk membentuk materi yang ditemukan sehari-hari. Kimia juga mempelajari pemahaman sifat dan interaksi atom individu dengan tujuan untuk menerapkan pengetahuan tersebut pada tingkat makroskopik. Menurut kimia modern, sifat fisik materi umumnya ditentukan oleh struktur pada tingkat atom yang pada gilirannya ditentukan oleh http://id.wikipedia.org/wiki/Gaya_antaratom”>gaya antaratom dan ikatan kimia.

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengantar

Kimia sering disebut sebagai “ilmu pusat” karena menghubungkan berbagai ilmu lain, seperti fisika, ilmu bahan, nanoteknologi, biologi, farmasi, kedokteran, bioinformatika, dan geologi [1]. Koneksi ini timbul melalui berbagai subdisiplin yang memanfaatkan konsep-konsep dari berbagai disiplin ilmu. Sebagai contoh, kimia fisik melibatkan penerapan prinsip-prinsip fisika terhadap materi pada tingkat atom dan molekul.

Kimia berhubungan dengan interaksi materi yang dapat melibatkan dua zat atau antara materi dan energi, terutama dalam hubungannya dengan hukum pertama termodinamika. Kimia tradisional melibatkan interaksi antara zat kimia dalam reaksi kimia, yang mengubah satu atau lebih zat menjadi satu atau lebih zat lain. Kadang reaksi ini digerakkan oleh pertimbangan entalpi, seperti ketika dua zat berentalpi tinggi seperti hidrogen dan oksigen elemental bereaksi membentuk air, zat dengan entalpi lebih rendah. Reaksi kimia dapat difasilitasi dengan suatu katalis, yang umumnya merupakan zat kimia lain yang terlibat dalam media reaksi tapi tidak dikonsumsi (contohnya adalah asam sulfat yang mengkatalisasi elektrolisis air) atau fenomena immaterial (seperti http://id.wikipedia.org/wiki/Radiasi_elektromagnet”>radiasi elektromagnet dalam reaksi fotokimia). Kimia tradisional juga menangani analisis zat kimia, baik di dalam maupun di luar suatu reaksi, seperti dalam spektroskopi.

Semua materi normal terdiri dari atom atau komponen-komponen subatom yang membentuk atom; proton, elektron, dan neutron. Atom dapat dikombinasikan untuk menghasilkan bentuk materi yang lebih kompleks seperti ion, molekul, atau kristal. Struktur dunia yang kita jalani sehari-hari dan sifat materi yang berinteraksi dengan kita ditentukan oleh sifat zat-zat kimia dan interaksi antar mereka. Baja lebih keras dari besi karena atom-atomnya terikat dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Struktur_kristal”>struktur kristal yang lebih kaku. Kayu terbakar atau mengalami oksidasi cepat karena ia dapat bereaksi secara spontan dengan oksigen pada suatu reaksi kimia jika berada di atas suatu suhu tertentu.

Zat cenderung diklasifikasikan berdasarkan energi, fase, atau komposisi kimianya. Materi dapat digolongkan dalam 4 fase, urutan dari yang memiliki energi paling rendah adalah padat, cair, gas, dan plasma. Dari keempat jenis fase ini, fase plasma hanya dapat ditemui di luar angkasa yang berupa bintang, karena kebutuhan energinya yang teramat besar. Zat padat memiliki struktur tetap pada suhu kamar yang dapat melawan gravitasi atau gaya lemah lain yang mencoba mengubahnya. Zat cair memiliki ikatan yang terbatas, tanpa struktur, dan akan mengalir bersama gravitasi. Gas tidak memiliki ikatan dan bertindak sebagai partikel bebas. Sementara itu, plasma hanya terdiri dari ion-ion yang bergerak bebas; pasokan energi yang berlebih mencegah ion-ion ini bersatu menjadi partikel unsur. Satu cara untuk membedakan ketiga fase pertama adalah dengan volume dan bentuknya: kasarnya, zat padat memeliki volume dan bentuk yang tetap, zat cair memiliki volume tetap tapi tanpa bentuk yang tetap, sedangkan gas tidak memiliki baik volume ataupun bentuk yang tetap.

 

 

Air yang dipanaskan akan berubah fase menjadi uap air.

Air (H2O) berbentuk cairan dalam suhu kamar karena molekul-molekulnya terikat oleh http://id.wikipedia.org/wiki/Gaya_antarmolekul”>gaya antarmolekul yang disebut http://id.wikipedia.org/wiki/Ikatan_Hidrogen”>ikatan Hidrogen. Di sisi lain, http://id.wikipedia.org/wiki/Hidrogen_sulfida”>hidrogen sulfida (H2S) berbentuk gas pada suhu kamar dan tekanan standar, karena molekul-molekulnya terikat dengan interaksi dwikutub (dipole) yang lebih lemah. Ikatan hidrogen pada air memiliki cukup energi untuk mempertahankan molekul air untuk tidak terpisah satu sama lain, tapi tidak untuk mengalir, yang menjadikannya berwujud cairan dalam suhu antara 0 °C sampai 100 °C pada permukaan laut. Menurunkan suhu atau energi lebih lanjut mengizinkan organisasi bentuk yang lebih erat, menghasilkan suatu zat padat, dan melepaskan energi. Peningkatan energi akan mencairkan es walaupun suhu tidak akan berubah sampai semua es cair. Peningkatan suhu air pada gilirannya akan menyebabkannya mendidih (lihat http://id.wikipedia.org/wiki/Panas_penguapan”>panas penguapan) sewaktu terdapat cukup energi untuk mengatasi gaya tarik antarmolekul dan selanjutnya memungkinkan molekul untuk bergerak menjauhi satu sama lain.

Ilmuwan yang mempelajari kimia sering disebut kimiawan. Sebagian besar kimiawan melakukan spesialisasi dalam satu atau lebih subdisiplin. Kimia yang diajarkan pada sekolah menengah sering disebut “kimia umum” dan ditujukan sebagai pengantar terhadap banyak konsep-konsep dasar dan untuk memberikan pelajar alat untuk melanjutkan ke subjek lanjutannya. Banyak konsep yang dipresentasikan pada tingkat ini sering dianggap tak lengkap dan tidak akurat secara teknis. Walaupun demikian, hal tersebut merupakan alat yang luar biasa. Kimiawan secara reguler menggunakan alat dan penjelasan yang sederhana dan elegan ini dalam karya mereka, karena terbukti mampu secara akurat membuat model reaktivitas kimia yang sangat bervariasi.

 

 
   

Ilmu kimia secara sejarah merupakan pengembangan baru, tapi ilmu ini berakar pada alkimiayang telah dipraktikkan selama berabad-abad di seluruh dunia.

 

 

Robert Boyle, perintis kimia modern dengan menggunakan eksperimen terkontrol, sebagai kontras dari metode alkimia terdahulu.

 

Sejarah

Akar ilmu kimia dapat dilacak hingga fenomena pembakaran. Api merupakan kekuatan mistik yang mengubah suatu zat menjadi zat lain dan karenanya merupakan perhatian utama umat manusia. Adalah api yang menuntun manusia pada penemuan besi dan gelas. Setelah emas ditemukan dan menjadi logam berharga, banyak orang yang tertarik menemukan metode yang dapat mengubah zat lain menjadi emas. Hal ini menciptakan suatu protosains yang disebut Alkimia. Alkimia dipraktikkan oleh banyak kebudayaan sepanjang sejarah dan sering mengandung campuran filsafat, mistisisme, dan protosains.

Alkimiawan menemukan banyak proses kimia yang menuntun pada pengembangan kimia modern. Seiring berjalannya sejarah, alkimiawan-alkimiawan terkemuka (terutama http://id.wikipedia.org/wiki/Abu_Musa_Jabir_bin_Hayyan”>Abu Musa Jabir bin Hayyan dan Paracelsus) mengembangkan alkimia menjauh dari filsafat dan mistisisme dan mengembangkan pendekatan yang lebih sistematik dan ilmiah. Alkimiawan pertama yang dianggap menerapkan metode ilmiah terhadap alkimia dan membedakan kimia dan alkimia adalah Robert Boyle (1627–1691). Walaupun demikian, kimia seperti yang kita ketahui sekarang diciptakan oleh http://id.wikipedia.org/wiki/Antoine_Lavoisier”>Antoine Lavoisier dengan http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_kekekalan_massa”>hukum kekekalan massanya pada tahun 1783. http://id.wikipedia.org/wiki/Penemuan_unsur_kimia”>Penemuan unsur kimia memiliki sejarah yang panjang yang mencapai puncaknya dengan diciptakannya http://id.wikipedia.org/wiki/Tabel_periodik”>tabel periodik unsur kimia oleh http://id.wikipedia.org/wiki/Dmitri_Mendeleyev”>Dmitri Mendeleyev pada tahun 1869.

Penghargaan Nobel dalam Kimia yang diciptakan pada tahun 1901 memberikan gambaran bagus mengenai penemuan kimia selama 100 tahun terakhir. Pada bagian awal abad ke-20, sifat subatomik atom diungkapkan dan ilmu http://id.wikipedia.org/wiki/Mekanika_kuantum”>mekanika kuantum mulai menjelaskan sifat fisik ikatan kimia. Pada pertengahan abad ke-20, kimia telah berkembang sampai dapat memahami dan memprediksi aspek-aspek biologi yang melebar ke bidang biokimia.

dan pengembangan” href=”http://id.wikipedia.org/wiki/Riset_dan_pengembangan”>riset dan pengembangan 2,1% dari total penjualan [2].

Cabang ilmu kimia

Kimia umumnya dibagi menjadi beberapa bidang utama. Terdapat pula beberapa cabang antar-bidang dan cabang-cabang yang lebih khusus dalam kimia.

Lima Cabang Utama:

Cabang – cabang Ilmu Kimia yang merupakan tumpang-tindih satu atau lebih lima cabang utama:

Bidang lain antara lain adalah astrokimia, http://id.wikipedia.org/wiki/Biologi_molekular”>biologi molekular, elektrokimia, farmakologi, fitokimia, fotokimia, genetika molekular, geokimia, ilmu bahan, kimia aliran, http://id.wikipedia.org/wiki/Kimia_atmosfer”>kimia atmosfer, http://id.wikipedia.org/wiki/Kimia_benda_padat”>kimia benda padat, kimia hijau, kimia inti, http://id.wikipedia.org/wiki/Kimia_medisinal”>kimia medisinal, http://id.wikipedia.org/wiki/Kimia_komputasi”>kimia komputasi, http://id.wikipedia.org/wiki/Kimia_lingkungan”>kimia lingkungan, http://id.wikipedia.org/wiki/Kimia_organologam”>kimia organologam, http://id.wikipedia.org/wiki/Kimia_permukaan”>kimia permukaan, kimia polimer, http://id.wikipedia.org/wiki/Kimia_supramolekular”>kimia supramolekular, nanoteknologi, petrokimia, http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_kimia”>sejarah kimia, sonokimia, teknik kimia, serta termokimia.

Konsep dasar

Tatanama

 

 

Logo IUPAC.

 

Tatanama kimia merujuk pada sistem penamaan senyawa kimia. Telah dibuat sistem penamaan spesies kimia yang terdefinisi dengan baik. Senyawa organik diberi nama menurut sistem http://id.wikipedia.org/wiki/Tatanama_organik”>tatanama organik. http://id.wikipedia.org/wiki/Senyawa_anorganik”>Senyawa anorganik dinamai menurut sistem http://id.wikipedia.org/wiki/Tatanama_anorganik”>tatanama anorganik.

Atom

Atom adalah suatu kumpulan materi yang terdiri atas inti yang bermuatan positif, yang biasanya mengandung proton dan neutron, dan beberapa elektron di sekitarnya yang mengimbangi muatan positif inti. Atom juga merupakan satuan terkecil yang dapat diuraikan dari suatu unsur dan masih mempertahankan sifatnya, terbentuk dari inti yang rapat dan bermuatan positif dikelilingi oleh suatu sistem elektron.

Unsur

 

 

Bijih uranium

 

Unsur adalah sekelompok atom yang memiliki jumlah proton yang sama pada intinya. Jumlah ini disebut sebagai nomor atom unsur. Sebagai contoh, semua atom yang memiliki 6 proton pada intinya adalah atom dari unsur kimia karbon, dan semua atom yang memiliki 92 proton pada intinya adalah atom unsur uranium.

Ion

 

Ion atau spesies bermuatan, atau suatu atom atau molekul yang kehilangan atau mendapatkan satu atau lebih elektron. Kation bermuatan positif (misalnya kation natrium Na+) dan anion bermuatan negatif (misalnya klorida Cl) dapat membentuk garam netral (misalnya natrium klorida, NaCl). Contoh ion poliatom yang tidak terpecah sewaktu reaksi asam-basa adalah hidroksida (OH) dan fosfat (PO43−).

Senyawa

Senyawa merupakan suatu zat yang dibentuk oleh dua atau lebih unsur dengan perbandingan tetap yang menentukan susunannya. sebagai contoh, air merupakan senyawa yang mengandung hidrogen dan oksigen dengan perbandingan dua terhadap satu. Senyawa dibentuk dan diuraikan oleh http://id.wikipedia.org/wiki/Reaksi_kimia”>reaksi kimia.

Molekul

Molekul adalah bagian terkecil dan tidak terpecah dari suatu senyawa kimia murni yang masih mempertahankan sifat kimia dan fisik yang unik. Suatu molekul terdiri dari dua atau lebih atom yang terikat satu sama lain.

Zat kimia

Suatu ‘zat kimia’ dapat berupa suatu unsur, senyawa, atau campuran senyawa-senyawa, unsur-unsur, atau senyawa dan unsur. Sebagian besar materi yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari merupakan suatu bentuk campuran, misalnya air, aloy, biomassa, dll.

Ikatan kimia

 

 

Orbital atom dan orbital molekul elektron

Ikatan kimia merupakan gaya yang menahan berkumpulnya atom-atom dalam molekul atau kristal. Pada banyak senyawa sederhana, http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_ikatan_valensi”>teori ikatan valensi dan konsep http://id.wikipedia.org/wiki/Bilangan_oksidasi”>bilangan oksidasi dapat digunakan untuk menduga struktur molekular dan susunannya. Serupa dengan ini, teori-teori dari fisika klasik dapat digunakan untuk menduga banyak dari struktur ionik. Pada senyawa yang lebih kompleks/rumit, seperti kompleks logam, teori ikatan valensi tidak dapat digunakan karena membutuhken pemahaman yang lebih dalam dengan basis http://id.wikipedia.org/wiki/Mekanika_kuantum”>mekanika kuantum.

Wujud zat

Fase adalah kumpulan keadaan sebuah sistem fisik makroskopis yang relatif serbasama baik itu komposisi kimianya maupun sifat-sifat fisikanya (misalnya masa jenis, struktur kristal, indeks refraksi, dan lain sebagainya). Contoh keadaan fase yang kita kenal adalah padatan, cair, dan gas. Keadaan fase yang lain yang misalnya plasma, kondensasi Bose-Einstein, dan kondensasi Fermion. Keadaan fase dari material magnetik adalah paramagnetik, feromagnetik dan diamagnetik.

Reaksi kimia

 

 

Reaksi kimia antara http://id.wikipedia.org/wiki/Hidrogen_klorida”>hidrogen klorida dan amonia membentuk senyawa baru amonium klorida

Reaksi kimia adalah transformasi/perubahan dalam struktur molekul. Reaksi ini bisa menghasilkan penggabungan molekul membentuk molekul yang lebih besar, pembelahan molekul menjadi dua atau lebih molekul yang lebih kecil, atau penataulangan atom-atom dalam molekul. Reaksi kimia selalu melibatkan terbentuk atau terputusnya http://id.wikipedia.org/wiki/Ikatan_kimia”>ikatan kimia.

Kimia kuantum

Kimia kuantum secara matematis menjelaskan kelakuan dasar materi pada tingkat molekul. Secara prinsip, dimungkinkan untuk menjelaskan semua sistem kimia dengan menggunakan teori ini. Dalam praktiknya, hanya sistem kimia paling sederhana yang dapat secara realistis diinvestigasi dengan http://id.wikipedia.org/wiki/Mekanika_kuantum”>mekanika kuantum murni dan harus dilakukan hampiran untuk sebagian besar tujuan praktis (misalnya, Hartree-Fock, pasca-Hartree-Fock, atau http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_fungsi_kerapatan”>teori fungsi kerapatan, lihat http://id.wikipedia.org/wiki/Kimia_komputasi”>kimia komputasi untuk detilnya). Karenanya, pemahaman mendalam mekanika kuantum tidak diperlukan bagi sebagian besar bidang kimia karena implikasi penting dari teori (terutama hampiran orbital) dapat dipahami dan diterapkan dengan lebih sederhana.

Dalam mekanika kuantum (beberapa penerapan dalam kimia komputasi dan kimia kuantum), Hamiltonan, atau keadaan fisik, dari partikel dapat dinyatakan sebagai penjumlahan dua operator, satu berhubungan dengan http://id.wikipedia.org/wiki/Energi_kinetik”>energi kinetik dan satunya dengan http://id.wikipedia.org/wiki/Energi_potensial”>energi potensial. Hamiltonan dalam persamaan gelombang Schrödinger yang digunakan dalam kimia kuantum tidak memiliki terminologi bagi http://id.wikipedia.org/wiki/Putaran_elektron”>putaran elektron.

Penyelesaian persamaan Schrödinger untuk atom hidrogen memberikan bentuk persamaan gelombang untuk orbital atom, dan energi relatif dari orbital 1s, 2s, 2p, dan 3p. Hampiran orbital dapat digunakan untuk memahami atom lainnya seperti helium, litium, dan karbon.

Hukum kimia

Hukum-hukum kimia sebenarnya merupakan hukum fisika yang diterapkan dalam sistem kimia. Konsep yang paling mendasar dalam kimia adalah http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_kekekalan_massa”>Hukum kekekalan massa yang menyatakan bahwa tidak ada perubahan jumlah zat yang terukur pada saat reaksi kimia biasa. Fisika modern menunjukkan bahwa sebenarnya energilah yang kekal, dan bahwa energi dan massa saling berkaitan. http://id.wikipedia.org/wiki/Kekekalan_energi”>Kekekalan energi ini mengarahkan kepada pentingnya konsep kesetimbangan, termodinamika, dan kinetika.

Industri Kimia

Industri kimia adalah salah satu aktivitas ekonomi yang penting. Top 50 produser kimia dunia pada tahun 2004 mempunyai penjualan sebesar USD $587 milyar dengan profit margin sebesar 8.1% dan penegluaran rekayasa (research and development) sebesar 2.1% dari total penjualan kimia. [3]

Hubungan kimia dengan peternakan

Survei Kimia Ternak Gunakan memberikan perkiraan rinci tentang penggunaan kimia pada ternak dan fasilitas peternakan. Survei ini adalah dasar untuk informasi faktual tentang jenis dan jumlah bahan kimia diterapkan pada hewan dan lingkungan mereka serta praktek produser.

 Kimia Ternak survei Gunakan mencakup semua spesies ternak besar pada rotasi tahunan. Survei ini digabungkan dengan Sistem Kesehatan Hewan Nasional Pemantauan (NAHMS) melakukan survei NASS untuk Hewan dan Tumbuhan Kesehatan Layanan Inspeksi (APHIS) berdasarkan biaya penggantian. Spesies ditutupi oleh NAHMS telah memasukkan sapi-sapi, ternak pada pakan, sapi perah, babi, domba, dan ayam. Negara-negara yang termasuk dalam masing-masing survei yang sama seperti yang tercakup dalam survei dasar persediaan tahunan untuk spesies.

Survei hanya mencakup insektisida diterapkan pada ternak dan fasilitas untuk mengendalikan hama eksternal lebih dari satu tahun penuh. Ini tidak termasuk obat-obatan, desinfektan, dan pembersih.

KIMIA DALAM PETERNAKAN

Peternakan tak jauh dari pandangan bau dan kotor yang di sebabkan oleh limbah feses ternak itu sendiri. Padahal limbah yang bau dan kotor itu bisa di olah menjadi sesuatu hal yang berguna salah satunya menjadi pupuk.

Salah satu aspek yang harus diperhatikan dalam perencanaan usaha peternakan khususnya ternak sapi adalah lingkungan hidup utamanya dalam hal pengelolaan limbah. Limbah kandang terutama feses dan urine merupakan masalah yang paling penting karena merupakan sumber pencemaran lingkungan yang paling dominan diareal peternakan sapi. dalam upaya sanitasi kandang, sistem pembangunan kotoran ternak memerlukan konstruksi khusus supaya kotoran tersebut dapat dikelola dengan baik dan dapat dimanfaatkan dalam bentuk pupuk organik agar tercipta lingkungan yang sehat.

Berdasarkan hal tersebut, maka perlu penerapan suatu teknologi tepat guna seperti penanganan limbah ternak untuk pupuk organik dengan metode EM-4 (Efektive Mikroorganisme 4) dan stardec. pembuatan kompos dengan menggunakan EM-4 dan Stardec, pada hakekatnya kultur campuran dari mikroorganisme yang menguntungkan. Sebagian besar mengandung mikroorganisme Lactobacillus sp. bakteri penghasil asam laktat, serta dalam jumlah sedikit bakteri fotosintetik Streptomyces sp. dan ragi. EM-4 merupakan bahan-bahan organik dan membiarkannya terurai menjadi bahan-bahan yang mempunyai perbandingan C/N yang rendah sebelum digunakan sebagai pupuk. Efektive Organisme 4 (EM-4) merupakan larutan berisi mikroorganisme fermentasi yang bekerja secara efektif dalam memfermentasikan bahan organik dalam kondisi aerob sehingga dapat mempercepat proses pengomposan dan menambah unsur hara tanah sedangkan stardec merupakan bubuk yang mengandung mikroba yang dapat mengurai bahan organik menjadi kompos.

Adapun hasil yang diperoleh setelah menggunakan kedua jenis ini untuk pembuatan kompos adalah sebagai berikut:

  • · Hasil pengomposan dengan menggunakan EM-4 adalah waktu yang diperlukan dalam pembuatan kompos lebih cepat dan berwarna merah kecoklatan, baunya tidak tajam, tidak lengket ditangan dan berwarna merah kehitaman dengan kandungan zat haranya adalah Nitrogen (N) 1,72%, Karbon (C) 5,52%, fosfor (P2O5) 2,21%, Kalium (K2O) 1,62% dan C/N 3,2%.
  • · Hasil pengomposan dengan menggunakan stardec dicirikan dengan warna hijau kecoklatan, strukturnya tidak menggumpal jika dipegang, baunya tidak menyengat, suhunya cenderung hangat dan lambat laun menjadi dingin. kandungan zat haranya adalah kelembaban 65%, Nitrogen (N) 1,90%, Karbon (C) 40,9%, Fosfor 1,89%, Kalium 1,96% dan C/N 21,5%.

CARA PENGOLAHAN

Bahan Baku

  • · Limbah organic pertanian / peternakan ( kotoran ternak, sampah kota dll.
  • · Serbuk gergaji ( kayu yang lunak ).
  • · Abu ( bekas pembakaran bahan organic ).
  • · Kalsit ( CaCo3 ) / dolomite.
  • · Stardec

Cara Pembuatan

1. Bahan – bahan tersebut di campur hingga homogeny dan di tumpuk pada tempat yang ternaung dengan ketinggian minimum 1,5 meter.

2. Aerasi dilakukan dengan jalan melakukan pembalikan / panyisiran dilakukan 7 hari sekali sebanyak 4 kali.

3. Selama proses kadar air di jaga kurang lebih 60%.

4. Akumulasi energy berupa panas diharapkan terjadi sampai suhu 70 derajat selama 2 minggu.

5. Proses dekomposisi akan berhenti secara alami, suhu turun menjadi kurang lebih 30 derajat, kadar air kurang lebih 40%, dan akan di hasilkan pupuk organic berkualitas dan berdaya guna yang lazim di sebut “Fine Compost”.

6. Bangunan lokasi penghomposan menggunakan lantai tanah dan ternaungi ( aman dari hujan dan sinar matahari secara langsung )
Bahan baku berupa kotoran ternak ( limbah organic ), serbuk gergaji, abu, kalsit, di susun berlapis-lapis hingga ketinggian kurang lebih 150 Cm.

7. Antar lapisan ditaburi starter bakteri Stardec Bahan di campur hingga homogeny dengan cara disisir cangkul dari atas ke bawah, untuk kemudian di tumpuk pada tempat proses dengan ketinggian kurang lebih 150 Cm.

 

 

 

About nandaunja

saya kuliah di Unja Fakultas Peternakan angkatan 2011.

Posted on Februari 14, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: